Ardiansyah Fadli

Hari-hari kemerdekaan di sesaki dengan penuh harapan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia untuk kemajuan bangsanya. Kegiatan seremonial dilakukan oleh penduduk negeri dari sabang sampai merauke. Bendera berkibar gagah terhempas bergerak mengikuti arah angin ke kanan dan kekiri. Disetiap rumah tercium bau kebahagiaan penghuninya. Lagu sakral Indonesia raya berbunyi nyaring keluar dari pita suara membuat melodi di angkasa raya. "Hiduplah Indonesia raya"  Menutup nyanyian sakral nusantara itu. Indonesia didoakan oleh ratusan juta pencintanya.  Haru biru,  tetesan air mata,  sesak dada,  termenung, sedih, kerap mewarnai nyanyi,  doa,  tawa di hari itu.  

Sementara saya,  masih dilingkupi dengan perasaan bingung. Bingung karena,  entah harus berbahagia atau malah kecewa. Pasalnya, saya harus menggabungkan dua realitas yang saling bertentangan dalam satu waktu  yang bersamaan. Rasa rasanya mustahil. Tetapi tak apalah. Saya tidak mau ambil pusing.  Hari ini, hari kemerdekaan,  setidaknya saya mesti menjatuhkan pilihan saya untuk berbahagia,  walaupun nantinya rasa itu barangkali akan cepat berubah menjadi kecewa. Saya hanya ingin berfikir sederhana untuk memaknai waktu sakral yang singkat ini. 

Kemerdekaan adalah hari yang bersejarah. Tidak mudah diraih hanya dengan sekali ucap atau semudah membalikkan telapak tangan. Butuh keseriusan, pikiran yang matang, dan waktu yang tepat. Salah salah sedikit saja konsekuensi nya akan berdampak besar. Hari ini adalah momentum bersejarah yang kalau menyianyiakannya berarti sama saja seperti tidak mendukung kemerdekaan. Bayangkan, tanpa tebang pilih, Indonesia mempersilahkan siapapun untuk merayakannya.  Sekalipun orang yang telah banyak merugikan,  menyengsarakan, mengambil keuntungan untuk kepentingan pribadi,  tetap boleh merasakannya. Termasuk seperti koruptor, penjahat,  penjilat, dan penghisap kekayaan indonesia masih tetap diperbolehkah untuk merayakan kemerdekaan. Indonesia memang hebat. "terima kasih indonesia". Itu ucapan saya yang mungkin dapat mewakili mereka yang telah banyak mengambil keuntungan dari Indonesia secara tidak lazim.

Saya pernah bertanya kepada beberapa orang.  Semacam survei kecil-kecilan untuk mengetahui apakah orang benar benar mencintai indonesia atau tidak. Pertanyaan sengaja saya tanyakan dengan orang orang terdekat saya. karena saya pikir mereka akan sangat jujur berbicara mengungkapkan perasaan mereka terhadap Indonesia, tanpa mereka tahu kalau saya sedang bertanya serius untuk  dijadikan sebuah tulisan. Dari 15 orang yang saya tanyakan. Tidak diragukan, 100% semuanya menjawab cinta terhadap tanah air indonesia. Tetapi jawaban itu kebanyakan dilanjutkan dengan kata "tapi". Saya faham. Berarti ada semacam pengecualian yang ingin mereka sampaikan. Dan saya harus tahu saat itu juga. Tanpa basa-basi mereka mengungkapkan semuanya. 

"ya iyalah,  gua cinta banget sama indonesia di. Gua kan lahir disini. Tapi..  Ya begitulah. Gua bingung. Disaat gue mencintai indonesia,  tetapi Indonesia seperti tidak mencintai gua. Gua hidup di indoneska tapi gua g merasa hidup. Menurut gua, Indonesia baru hanya sebatas House bukan Home. Jadi cuma secara fisik gua cinta indonesia tapi feel untuk bisa mencintai indonesia lebih jauh seperti Home itu belum ada" jelas Adi Darussalam. 

Alasan Adi,  membuat saya berfikir ulang tentang House dan Home. Ternyata tidak mudah untuk mencintai indonesia sebagai Home. Hal itu karena mencintainya mesti melibatkan feel atau rasa.  Tentu saja siapapun tidak bisa memaksakan hal itu. saya punya kesimpulan bahwa kalau Indonesia sebagai home berarty Indonesia dapat menyediakan kenyamanan, keasyikkan,  keseruan, bahkan  kebanggaan penduduknya terhadap Negeri yang di dudukinya. Seperti penjelasan adi tadi. 

Sementara yang terjadi berbeda. Bayangan kita terhadap Indonesia tidak sesuai harapan. Reformasi tidak menjanjikan perubahan yang signifikan.  Semua seperti ilusi mimpi disiang bolong. Koruptor tetap menjadi penyakit nomer wahid yang sulit dicarikan penawarnya. Mereka seperti menggerogoti dagingnya sendiri. Saya menjuluki mereka psikopat psikopat intelektual. Kalau difikir fikir tak satupun dari mereka tidak memiliki latarbelakang pendidikan.  Mereka adalah orang orang terdidik. Tentu saja kebanyakan orang berharap merekalah kelak yang akan menjadi tonggak sekaligus motor penggerak perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Entahlah, saya bukan tidak percaya atau menyalahkan pendidikan. Tetapi ternyata pendidikan tidak menjamin orang untuk berbuat baik. Karena pendidikan justru orang malah cenderung membodohi,  berbuat picik dan licik hanya untuk memenuhi hasrat pribadinya.  

Dulu, saya pernah mendengar ucapan ustadz ketika mengajar di dalam kelas "salah nya negeri ini adalah karena orang alim tidak mau menjadi kaya,  dan orang kaya tidak mau menjadi alim".  Tentu saja saya tidak membenarkan ucapan itu sepenuhnya. Sejak kuliah saya di ajarkan untuk berfikir lebih kritis dan menyandarkan setiap opini pada bukti dan data.  Orang kaya yang alim. Sudah banyak. Begitupun sebaliknya.  Terlebih dalam politik . Banyak orang yang mengerti, faham tentang agama dan telah cukup dikatakan alim. Tetapi tetap saja tidak berdaya ditengah pusaran koruptor yang begitu dominan. Barangkali ada tagline "tidak keren kalau tidak korupsi". Sementara ucapan ustadz tadi,  mengilhami saya untuk berfikir bahwa kata "Kaya" bisa saja diasosiasikan dengan kekayaan materi,  kekuasaan semacam jabatan dan kedudukan yang banyak orang perebutkan saat ini. 

Indonesia adalah negara besar,  dengan jumlah penduduk yang besar. Hal itu tentu beriringan diikuti dengan segudang permasalahan yang juga besar. Perlu kebesaran hati untuk menerima realitas dan merubahnya agar semakin besar dikenal dan diperhitungan di tingkat dunia. Telah Banyak siswa siswa berprestasi memenangkan berbagai macam kompetinsi bergengsi di kancah internasional. Atlet atlet olahraga yg mampu menunjukkan taringnya dan menyabet medali emas. Mereka benar benar memiliki jiwa yang besar untuk membesarkan negerinya mengharumkan indonesia. Mengenalkan kepada dunia bahwa di ujung dunia sana, terdapat negeri yang kaya,  alam yang indah,  sumber daya manusia yang berkualitas. Hal demikian barangkali dapat menjadi alasan mengapa kita mesti mencintai indonesia.  

Saya percaya, mereka yang berprestasi tahu betul sesungguhnya masalah besar yang dihadapi negerinya. Kebebasan mendapatkan informasi dari berbagai media massa seperti TV,  Berita dan maraknya media sosial khususnya, pasti membuat mereka tahu tanpa harus mengungkapkan kekecewaan mereka kepada masyarakat dunia tentang negerinya. Seburuk apapun kondisi negerinya.

Mereka akan tetap mengatakan "indonesia is an amazing country. Paradise in the wolrd". Dan dengan sejumlah kata-kata baik untuk menutupi aib, menjaga marwah dan wibawa indonesia di mata dunia.  Walaupun saya tidak meragukan kecintaan mereka terhadap indonesia dan Kebanggaannya menjadi Indonesia. Mereka menentang logika, melawan arus dan memulai mencintai indonesia dengan perasaan. Melakukan perubahan dengan kemampuan yang mereka bisa lakukan. Indonesia memang keren. Disaat Prestasi anak negeri mampu mengharumkan nama baik indonesia. Sementara prestasi korupsi malah perburuk citra bangsa. 

Transparency international (TI)  melaporkan Indonesia telah ada pada posisi ke 90 dengan skor 37 dari 176 negara di dunia. Terhitung dikeluaroan sejak 26 Januari 2017. Ada kenaikan skor satu poin dari sebelumnya.  Tetapi yang aneh malah terdapat penurunan rating sebanyak dua tingkat. menurut Kordinator indonesia Corruption watch (ICW), Donald Fariz, penyebabnya adalah dikarenakan belum maksimalnya reformasi birokrasi dibidang perijinan. Seorang peneliti transparasi internasional menjelaskan,  bahwa harus ada upaya serius pemerintah indonesia untuk menangani korupsi sampai ke akar-akarnya. Indonesia harus melakukan  reformasi fundamental. Membuka semua informasi kepada publik dan transparasi di antara sektor pemerintah dan bisnis.

Saya tetap saja tidak bangga.  Walaupun saya mesti apresisasi atas capaian tersebut karena setidaknya ada sedikit perubahan.  Bertahap memang.  Tapi tetap jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti malaysia,  brunei darussalam,  atau bahkan Singapura,  kita tetep saja tertinggal jauh dari mereka. 

Ternyata benar merdeka bukan soal waktu, soal luas negara,  soal kekayaan sumber daya,  tapi soal keberanian untuk menjadi merdeka seutuhnya. Terlebih berkaitan dengan transparasi, dan rumitnya birokrasi sebuah institusi yang terkadang membuat masyarakat harus melakukan sampai beberapa kali disposisi hanya untuk mengeluarkan secarik kertas rekomendasi. Lebih parah, buruknya pelayanan,  ribetnya birokrasi untuk menggunakan bantuan kesehatan pemerintah seperti BPJS, tentu saja ini tidak bisa dinamakan pertolongan pertama. Karena untuk menolong saja,  negara harus menyulitkan orang lain. Saya faham itu oknum. Tetapi setidaknya hal itu menunjukkan lemahnya birokrasi bangsa yang besar  ini. Bahkan dipandang rendahnya pemerintah oleh pekerja pegawai-pegawai pemerintah sendiri. 

Meminjam perkataannya panji pragiwaksono seorang stand up commedian. Di bukunya "juru bicara"  dia menuliskan "kalau di luar negeri,  membangun karier itu ibarat tinggal mengambil jalan lurus. Ikuti saja jalan tersebut dengan tekun  maka kita akan sampai ke tujuan.  Klo bensin habis,  akan ada pom bensin di pinggir jalan. Klo bingung  akan ada rambu-rambu jalan yang mengarahkan. Di Indonesia membangun karier itu ibarat mengambil jalan yang banyak jalan belakangnya. (banyak jalan tikusnya). di Indonesia banyak Zombi,  banyak yang hidup tetapi tanpa kehidupan.  Hanya menjalani rutinitas keseharian tanpa pernah  tau apa mimpinya,  apa passionnya,  apa yang akan membiatnya benar2 merasa hidup. Menurut panji, diluar negeri,  untuk sukses,  anda mesti pinter.  Di Indonesia pinter aja nggak cukup.  Anda mesti cerdik. Cerdik itu ilmu kehidupan,  bukan ilmu sekolahan.

Kemudian,  pertanyaan yang muncul dikepala kita adalah Lantas,  bagaimana caranya mencintai indonesia yang dengan sejumlah permasalahan menjadi satu kesatuan paket yg mesti kita terima sebagai indonesia ? Jawaban saya sederhana. Cintai indonesia dengan perasaan. Dulu,  saya ingat betul prinsip dalam sebuah percintaan saat kita mencintai lawan jenis, bahwa cinta itu walaupun bukan karena.  Saat ini,  barangkali  juga begitu,  kecintaan kita kepada Indonesia sedang di uji. Siapapun yang berhasil melalui ujian.  Mencintai dengan apa adanya, akan berhasil untuk menjalani kehidupan secara realistis. Dan menjadi indonesia sejati. 

Bukan hidup namanya disaat kita hanya mencintai kesempurnaan. Sebab dibelahan dunia manapun tidak ada yang menjanjikan kesempurnaan. Dan kita tidak pernah bisa menemukannya.  Selalu ada kekurangan yang dengannya kita harus bisa menerima nya sebagai kesatuan yang utuh. Mencintai indonesia berarti menerima setiap kekurangan, masalah di Indonesia dan merubahnya tanpa harus ada rasa pesimis,  putus asa apalagi kecewa.  Karena percaha atau tidak,  itu tidak akan pernah menyesaikan masalah. 

Cintai indonesia dengan perasaan, bukan dengan keserakahan. Serakah memang tabiat manusia tapi akal budi adalah alat yang diberikan tuhan untuk menghilangkan tabait buruk manusia. Dan menetralisir keburukan. 




"Sejarah umat manusia adalah sejarah perang. Peradaban dibangun melalui perang, Manusia bertahan dengan perang. Bahkan agama disebarkan dengan perang. Sebagian perang karena terdesak atau naluri bertahan. Tapi banyak yang berperang, karena ingin menguasai, menggeser dan menaklukkan. Perang adalah pesta, unjuk kekuatan untuk menakuti, teror mengikuti. Perang tak meninggalkan apapun, kecuali tiga hal; kerusakan, tangis dan monumen." (M. Iqbal Suma).
ㅤㅤ
Kabar internasional cukup mengejutkan. Donald Trump membuat geger mata dunia. Trump seperti memancing ikan di air keruh. Palestina menangis, air matanya kini tak dapat terbendung. Israel tertawa gembira, dengan senjata, baja dan peluru memblokade massa demonstran Palestina yg beribadah di bekas negerinya.
ㅤㅤ
Dalam sejarah manusia, perang punya tiga alasan; Gold, Glory, Gospel. Merampas sumber daya, merebut wilayah kekuasaan dan menyebarkan ajaran. Dan Julius Cesar, sang jenderal Romawi, berujar Vini, Vidi, Vici. Saya datang, saya taklukkan, saya menang.
ㅤㅤ
Tetapi untuk saat ini, Bagaimanapun perang demi motivasi apapun tak dapat dibenarkan, ditengah sekat negara yg telah memiliki aturan dan konstitusi/hukum internasional. Dimana setiap negara tidak bisa seenak jidat menyerang negara lain. Kalau demikian, berarty ada kesepakatan yang dilanggar, dan ada sanksi/konsekuensi yg mesti diterima.
ㅤㅤ
Israel dan Palestina memang sama sama memiliki sejarah. Tetapi menciderai sejarah dengan membuat sejarah baru yg memalukan adalah dosa sejarahnya sendiri. Publik tidak diam, kita tidak hidup di zaman kuno. Kita hidup di zaman virtual dimana jutaan pasang mata turut terlibat bertanggung jawab dalam menjalankan ketertiban dunia dan memenuhi hak-hak kemanusiaan.
ㅤㅤ
Kalau aku boleh menganalogikan, dalam wayang, seberapapun kuatnya kurawa, raksasa kalantaka dan kalanjaya yang sulit dikalahkan oleh Pandawa. Tetap saja mereka akan tetap dicitrakan, diceritakan oleh dalang sebagai kelompok yang mewakili karakter antagonis, jahat, dan penuh muslihat. Sebaliknya, se-kalah/se-tidakberdaya apapun Pandawa, melawan Kurawa, mereka akan tetap dikenal, diceritakan sebagai kelompok yang protagonis, baik, memiliki jiwa kesatria, bijaksana, dan menjadi percontohan "Budi luhur" umat manusia..













(Sabtu, 3 februari 2018)

#SaatnyaBercerita

"untuk menuju satu janur,  kita akan melewati beberapa janur di sepanjang perjalanan."
Dari ciputat saya langsung bertolak ke dongkal,  Tangerang tempat titik kumpul beberapa temen pesantren dulu, sebelum kemudian menuju tempat pernikahan temen, Rizka Safarahim.  

Perjalanan awalnya biasa-biasa saja. Udara ciputat lumayan segar. Cuaca rada mendung,  namun tak lama cerah kembali.  Seperti istilah "Cerah enggan,  Mendung pun tak mau".  

Maksud hati ingin membawa perempuan untuk setidaknya dapat menemani perjalanan panjang, dan membuktikan kepada teman teman,  bahwa aku tidak sedang menjomblo lho, ("bodo amat"prediksiku atas jawaban temen2 nantinya) haha.  Tapi, tuhan berkata lain,  karena berbagai alasan,  Si dia ternyata  tidak bisa ikut menemani karena ada kegiatan yg menurutnya jauh lebih penting. Huh,  dasar perempuan memang makhluk PlinPlan sejagat raya. Malam mengiyakan,  tiba tiba siangnya enak saja main membatalkan.  Untung saja, hati ini made in allah, bukan made in china,  apalagi made in batam. Tapi satu hal yang saya ingin katakan "bukankah itu bagian dari PHP?". #mikirkeras.
Oke. Lupakan.  

As we know, Macet bukan hal aneh di INDONESIA. Terlebih di JABODETABEK. Kayaknya "nggak asyik klo nggak macet".  Minimal,  karena macet kita bisa berhenti sejenak melihat keramaian,  berfikir tentang lingkungan sekitar. dan satu lagi.  Yups, tentu saja, menikmati kesendirian.  Haha..  So,  sekali lagi,  macet bukan hal aneh di tengah tanah yg tak lagi luas,  sementara diikuti populasi penduduk yg terus bertambah setiap harinya (Faktor : Kelahiran&Transmigrasi). 

Saya ingin jujur,  bahwa Macet ternyata telah membuat perjalanan menjadi semakin dramatis,  suasana semakin romantis,  hati dan perasaan mendadak melankolis.  Bahkan saya sampai berimaji kalau Ke 15 janur yang saya lihat di jalan-jalan, mereka seperti sedang berteriak dengan suara kencang, sekencang musik dangdut dalam pernikahan,  lalu mengatakan seperty yang anak zaman ini katakatan "woy...inget umur!!!  Nikah apa Nikah..!!! Diem diem baee.. Udah pada Nikah beloomm??". Haha.. 

Lalu, hal aneh apa yang ada di sepanjang jalan? 

Janur.  Ya.  Entah mengapa di jalan saya langsung terpikirkan untuk bercerita tentang hal ini. Simple saja.  Baru  saja, beberapa ratus meter motor melaju, tiba tiba saya sudah disapa oleh banyak janur di sepanjang jalan. Untuk itu, dengan kesadaran hati saya sengaja menghitung janur-janur yg saya lihat dalam perjalanan Ciputat sampai Dongkal (Kota Tangerang) . Total ada sekitar 15 janur dalam jarak 21 KM. (versi Maps).  Lumayan banyak. Dan memang banyak. 

Bayangkan, Indonesia punya luas sekitar 5.193.250 KM³, kalau dalam setiap 21 KM terdapat 15 janur saja, berarty sudah ada sekitar  16.487 Janur di Indonesia,  dalam satu hari.  Itu berarti ada sekitar 32.974 anak manusia yang melangsungkan pernikahan di Indonesia.  Sekali lagi. DALAM SATU HARI.  Amazing. Selamat, untuk 16.487 pengantin di Indonesia pada tanggal 3 februari 2018 . Semoga pernikahannya berkah dunia akherat. Amien. 

Kita tau, Janur telah lama membudaya di bangsa ini sebagai simbol pernikahan.  Berbagai versi cerita dibangun untuk memperjelas asal usul nya sebagai sebuah eksistensi. Tersebutlah Raden Angga Wacana (sebagaimana penjelasan di buku babad cijulang) ,salah satu tokoh agama di daerah sukapura, Kabupaten pangandaran. Jawa Barat.  Konon,  dialah yg mengawali Janur sebagai simbol pernikahan. pria ini ialah orang yang telah memenangkan sayembara kerajaan Cirebon. Adapun hadiah dari sayembara tersebut,  pemenangnya akan dinikahkan oleh putri kerajaan Cirebon. Tetapi Karena alasan telah menikah,  Raden anggara Wacana menolak permintaan raja untuk menikahkan putrinya. Singkat cerita,  Raden anggara pun akhirnya menerima dengan satu syarat, sebagai simbol ia ingin pernikahannya di hiasi dengan janur kuning. 

“Hingga saat ini, hiasan janur kuning menjadi budaya dan tradisi dalam setiap hajatan terutama hajatan pernikahan,” jelas Abah Kundil. 

Cerita nya memang absurd. Bahkan nyaris tak menjawab pertanyaan kenapa mesti janur kuning dan ada apa dengan janur kuning.  

Tapi bagaimana pun kita mesti menjaga dan menghormati cerita-cerita rakyat yang berkembang di masyarakat.  Soal percaya atau tidak, itu kembali pada nalar pemikiran kita masing masing. Toh pada akhirnya sesuatu yang ilmiah pun tidak akan pernah mengabaikan sedikitpun cerita-cerita yang tidak masuk akal sekalipun, Karena itu menjadi bagian dari data penelitian yg mesti mereka kumpulkan.
Janur memang misterius,  tapi tak kalah misterius,  yaitu orang orang yang melangsungkan pernikahan. Sebagai Jomblo saya ingin sekali bertanya pada mereka calon calon pengantin.  Mengertikah mereka akan substansi dari sebuah pernikahan?  Dan kenapa mesti ada perceraian?. Pernahkah kalian mendengar,  bahwa ketika ada orang yang bercerai,  pasti yang dikambinghitamkan adalah takdir bahkan tuhan sekalipun. Kenapa tidak akui saja perceraian sbagai sebuah kesalahan atau ketidakmatangan kita untuk menjalin rumah tangga.  Dalam agama sekalipun,  perceraian memang di bolehkan,  tapi cerai adalah sesuatu hal yang di benci, bukan?.  Maka berfikir matang,  bersikap dewasa sebelum mengambil keputusan.  Nikah bukan soal resepsi,  tapi soal kolaborasi,  menjaga, saling membangun,  dan satu lagi,  meredam ego. 

Janur kuning sudah memberikan makna yang sangat filosofis. Diambil dari kata nur,  atau nur ilahi yang berarti cahaya allah,  sementara kuning,  orang jawa menyebutnya sabda dadi (kun fayakun)  yg berharap setiap ucapan suci dalam pernikahan dapat terwujud.  Tak hanya itu,  filosofis pun berlanjut sampai membahas tentang spesifikasi jenis dan bentuk janur.  Haha...  Baru bicara janur,  belum bicara simbol2 lain dalam pernikahan. Banyak bukan?  Dari situ kita tahu, betapa sakralnya pernikahan.  Tentu saja jauh lebih sakral menjalani kehidupan setelah pernikahan. 

Maka pantas,  jika saya berasalan untuk tidak terlalu cepat dalam hal penikahan.  Disamping belum siap secara materi, dan calon nya yang masih "di Sembunyikan"  tuhan.  Saya ingin terlebih dahulu belajar dan memahami betul arti dan substansi dari pernikahan. Membaca,  dan bayak mendengarkan cerita dari teman teman yang sudah lebih dahulu menikah.
Saya mengapresiasi betul keberanian mereka, dalam hal pernikahan. Setidaknya mereka (mempelai lelaki)  telah berani menghadapi orang tua si pujaan hati. Hal yang belum berani melakukannya.  Haha...  Keberanian mereka seperti mengalahkan rasa takut.  Yah takut di tolak ayaj dan ibunda nya.  Hehe...  

Akhirnya,  saya merasa beruntung terlahir sebagai muslim, yang menganjurkan penikahan bukan malah melarangnya.  Islam is the solution of life.  Ditengah Betapa banyaknya agama dan faham,  atau keyakinan tertentu yang justru malah melarang pernikahan.  Bahkan di jepang,  ada pemahaman bahwa penikahan adalah perbudakan yang sesungguhnya ditengah kemandirian mereka dan kepercayaan bahwa tanpa pasangan mereka masih tetap bisa hidup, sementara menikah justru malah mempersulit ruang gerak, dan menambah beban hidup mereka.  Haha..  So, islam bertanggung jawab pada peradaban dan berlangsung nya kehidupan di dunia ini. 

Janur memang bukan budaya islam,  tetapi janur memiliki makna yang sangat islamis. Bukan?
Terakhir, saya mengucapkan selamat kepada Riska Safarahim dan Pasangan yang telah dengan khidmat melangsungkan akad prosesi pernikahan. Melihatnya tentu menjadi spirit, dan motivasi untuk tidak melupakan tugas suci umat manusia yakni menikah.  Dengan begitu, maka sempurna lah agama dan menjadi manusia seutuhnya.  Menjadi Ayah dan orang tua dari anak anak, nantinya..




 



























"sepertinya aku tidak akan bertahan lama lagi di dunia ini" pungkas luwak, pada kucing, pasrah.  tubuhnya lemas, luwak bicara dari dalam kandang. 

Mendengar itu, kucing bertanya balik "loh, kenapa begitu wak". Kucing heran.  Baginya Kehidupan itu anugerah, walau sesekali kucing di sakiti oleh jenis hewan homo sapiens. Tapi, setidaknya kucing bisa bebas, kabur berkeliaran kemanapum dia mau.
"kamu enak, bisa bebas. Sedangkan aku?  Di buru, ditangkap, dan ekploitasi" jelas luwak membandingkan kucing dengannya.  

Waktu sudah malam, waktunya Herman memberi makan luwaknya di kandang,  berharap besok pagi bisa menuai hasil kopi yang keluar dari anus luwak. 

Herman memiliki usaha produksi kopi luwak. Di rumah, herman punya beberapa luwak peliharaannya. Luwak-luwak yang herman miliki di jadikan alat produksi untuk menghasilkan biji kopi,  dan meraup rupiah sebanyak banyaknya. 

Dari banyak luwak yang herman pelihara,  kesemuanya memiliki karakteristik yang berbeda.  Ada luwak yang begitu pasrah,  menerima, bekerja,  berkali kali mengasilkan kopi, mengikuti apa yang herman arahkan,  ada juga luwak yang kritis,  tidak mau di intervensi,  di paksa sedemikian rupa,  dan merindukan hidup bebas seperti hewan hewan liar pada umumnya. 

Si bolga herman menamainya.  Si bolga adalah luwak yang tanpa sepengetahuan herman memiliki nalar kritis dan tidak mau di dikte dan di jadikan alat produksi untuk menghasilkan kopi.  Herman hanya mengetahui bolga adalah luwak yang paling susah di atur.  Susah di andalkan,  dalam sebulan dia hanya sekali atau dua kali menghasilkan biji kopi saja.  Berbeda dengan luwak-luwak lainnya,  yang dengan lahap menghabiskan kopi-kopi pemberiannya,  untuk kemudian di keluarkan kembali dari anusnya.  

Bolga sudah beberapa kali memprovokasi luwak luwak lainnya. Bahwa apa yang dilakukan herman, baginya sangat lah tidak hewani. Menurutnya herman hanya peka pada persoalan-persoalan manusiawi,  tapi tidak dengan persoalan hewani. 

"herman tidak pernah tau dan mau tau seperti apa rasanya menjadi seekor hewan"  jelas Bolga pada teman luwak lainnya. 

"yasudah, aku, bensa, dan benta,  bagaimanapun tidak setuju dengan pendapatmu." Tegas benco, " lagi pula apa yang telah dilakukan oleh Herman adalah baik. Kami merasa dirawat, di beri makan, dan dipelihara dengan sangat baik. Kami bersyukur telah dipertemukan dengan orang seperti Herman.  Untuk itu tugas kami disini bekerja untuk herman,  dan sebagai imbalan, kami di berikan upah,  makan, tempat tinggal, secara gratis" jelas Benco pada si Bolga diikuti persetujuan teman luwak lainnya.

"betul Ga, aku setuju atas apa yang dikatakan benco, tanpa Herman, barangkali kita tidak tahu akan seperti apa, mungkin sudah dapat majikan galak,  penjual yang sadis,  atau sudah dicincang,  dimasak, di jadikan daging  yang memang telah menjadi kodrat kita sebagai hewan untuk di bunuh, dimakan habis manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya" Pungkas Bensa,  memperjelas dan mendukung pernyataan benco sebelumnya. 

Si Bolga merasa tidak punya pendukung,  benta tentu saja akan ikut teman dekatnya,  benco dan bensa. "mmm...  Okeh kalau begitu,  aku,  tidak ingin menciderai demokrasi diantara kita,  aku juga tidak mau mengorbankan pertemanan hanya karena persoalan setuju dan tidak setuju"  sahut Bolga pada tiga temannya, ketiganya mendengarkan khidmat,  si bolga melanjutkan "tapi,  teman teman,  izinkan aku untuk memperjuangkan apa yang aku yakini kebenarannya,  demi sebuah kebebasan yang sejak lama aku merindukannya"  tutup Si bolga dengan nada lemas. 

Gelap turun, cuaca sangat dingin,  ketiga temannya masih bekerja untuk herman, memproduksi biji kopi. Bolga terdiam di pojok, berdiri di sudut kandang diantara lubang lubang udara,  tatap bolga memperhatikan gerak kehidupan di luar kandang. Kucing yg sudah lama menjadi sahabat curhatnya, sibuk menggaruk-garuk tubuhnya. Bolga sedang bicara pada dirinya sendiri,  dia mau hidup seperti si Kenji,  kucing liar yang sesekali di beri makan ikan oleh Herman.  Walau berstatus kucing liar,  Kenji seperti telah dapat mengambil hati herman.  Beberapa kali Bolga merasa iri atas perlakuan herman pada kenji kucing liar tersebut.  Haruskah Bolga menyesali telah tercipta sebagai luwak. Mengapa tidak kucing liar saja. Tapi untuk apa?  Penyesalan hanya membuat kondisi nya jauh lebih rumit. Bolga hanya mesti menerima dan melakukan apa yang Bolga bisa lakukan. 

Kenji mendekat, Bolga cepat-cepat tersadar dari lamunannya nya. Seperti tahu betul isi hati dan keresahan bolga, tetiba kenji mengatakan "Bolga, percayalah setiap makluk tercipta atas resikonya masing-masing, aku yang menurutmu bebas, tetap saja menanggung resiko atas kebebasan yang aku dapatkan. Berfikirlah ulang tentang arti kebebasan. Jangan biarkan dirimu terpuruk hanya karena keegoisan dan keinginanmu. Lakukan apa yang saat ini bisa kau lakukan. Sebab,  tak ada hari kemarin,  tak ada hari esok,  tapi yang ada adalah hari ini." tangan kenji memegang tiang menatap bolga dengan segala keyakinannya.

"aku akan pergi,  mencari makanan di luar. Mengemis pada makluk lain, memeriksa tong sampah di jalan jalan, lain waktu kita bertemu.  Herman orang baik,  tak lama lagi dia akan memberimu makan. Balaslah kebaikan orang dengan lebih baik"  tutup Kenji,  meninggalkan Bolga dalam tatapannya yang kosong. Kenji berbalik arah jalan keluar pintu, mata Bolga tetap terjaga memerhatikan Kenji. Mulutnya tertutup, matanya berlinang, hatinya berbicara,  "Terima kasih kenji,  kamu juga teman yang baik".  Ujarnya dalam hati. 

Tak berapa lama,  suara motor di jalan raya terdengar kencang dari luar rumah Herman. Kenji tepat berada di tengah jalan, suara Bolga tak terdengar ke telinga Kenji. dengan cepat motor melindas tubuh kenji. Terseret jauh, sampai lenyap dari pandangan Bolga. 

Peresmian SPBU Kompak di Tambrauw, Papua Barat - Dok. Pertamina
Bukan hal aneh ketika mendengar betapa sulitnya hidup diluar pulau jawa. Mulai dari akses yang terbatas, pemadaman listrik secara bergilir sampai dengan fasilitas yang tidak memadai atau belum tersedia. Kita juga tidak jarang mebaca berita heroik. Betapa gigihnya mereka berjuang dalam segala keterbatasan. Anak-anak bersekolah dengan jarak yang amat jauh, jalan yang rusak, dan membahayakan. Barangkali sekolah sudah menjadi barang langka untuk mereka yang tinggal di daerah 3T (Terdalam, Tedepan dan Terluar) Indonesia.

Film “Tanah Surga katanya”(15/08/2012), menggambarkan betul betapa dilemanya hidup dipedalaman Kalimantan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia. Disatu sisi mereka terlahir sebagai Indonesia, tetapi disisi lain, mereka banyak bersosialiasi, dan memanfaatkan faslitas yang disediakan oleh negara Malaysia. Lihat bagaimana seorang salman, yang memutuskan berhenti sekolah dan kemudian bekerja mencari uang untuk biaya pengobatan Kakeknya, Hasyim yang juga mantan seorang pejuang kemerdekaan. Saat Salman,harus membawa kakeknya ke rumah sakit di negaranya dan menolak untuk dibawa kerumah sakit negara tetangga yang notabene jarakny lebih dekat. Karena jarak tempuh yang jauh, kakek Hasyim menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan ke rumah sakit menggunakan perahu.

Film yang menggugah siapapun yang menontonnya. Sebab Disinilah, nasionalisme seseorang di Uji. Tidak jarang dari mereka menyerah dan rela mencopot identitasnya sebagai indonesia, dan memilih kewarganegaraan lain. Tetapi, tidak sedikit yang memutuskan untuk bertahan, menerima indonesia dengan segala kekurangannya, dan ketidakpeduliannya terhadap kondisi mereka.
Upaya demi upaya dilakukan oleh lembaga tinggi pemerintahan dan non pemerintah untuk memberikan solusi konkret terhadap masyarakat Indonesia di daerah 3T tersebut.
Salah satu program yang dilakukan oleh Pertamina, nampaknya patut diapresiasi. Program #PertaminaBBM1Harga merupakan langkah konkret pertamina demi kemanusiaan dan kesejahteraan sosial yang merata di Indonesia. Pertamina, yang juga merupakan salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) , akan menargetkan 150 titik BBM1Harga sampai akhir 2019 dengan biaya sebesar 3 triliun.




Sudah ada beberapa SPBU yang menerapkan Program PertaminaBBM1Harga, sperti di SPBU Kompak, di desa Onolimbu, Kec Lahomi, Kab. Nias Barat. Di SPBU ini Masyarakat dapat mendapatkan harga Premium dengan harga Rp. 6.450,- dan Solar Rp. 5.150,-. Tidak hanya ada disana,  #PertaminaBBM1Harga juga ada di dua SPBU PT. Sunarco, di Kec. Pulau Tiga, dan Kec. Bunguran Timur, Natuna Kepulauan Riau. Sementara SPBU yang lain masih dalam Pembangunan. Seperti di Kecamatan Jemaja Kabupaten Anambas, Kecamatan Tambelan Kabupaten Bintan, Kecamatan Pulau Laut Kabupaten Natuna,  Kecamatan Serasan Kabupaten Natuna dan daerah lainnya.

Menurut saya, ini langkah yang tepat untuk menghilangkan kesenjangan sosial dan memberikan kebebasan kepada masyarakat Indonesia untuk dapat bersaing secara sehat di berbagai sektor. Selain akses, SPBU yang menyediakan Bahan bakar dengan harga yang terjangkau juga menjadi inti dari berjalannya transportasi dan sektor perekonomian. BBM1Harga berarti akan merubah pola perekonomian, termasuk kehidupan masyarakat di daerah 3T menjadi lebih baik. Negara akan merasa terbantu, akses jalan yang dibangun oleh pemerintah akan digunakan masyarakat untuk kemudahan mendapatkan fasilitas yang selama ini sulit mereka dapatkan. Tentu saja, peristiwa yang tergambarkan dalam film “Tanah Surga Katanya” tidak akan terjadi lagi.

Menurut saya, memang sudah semestinya Pemerintah dan Perusahaan berkolaborasi membangun dan memberikan kontribusi terbaiknya untuk masyarakat. Program BBM1Harga milik Pertamina nampaknya dapat menjadi contoh betapa kerjasama antara keduanya melahirkan solusi yang solutif. Saya bahkan kita semua ingin melihat Pertamina-Pertamina Selanjutnya di masa depan. Tanpa Perusahaan, Pemerintah layaknya berjalan dengan satu kaki. Begitupun sebaliknya. (Ardi)
  








Jika kita mendengar, pom bensin, maka menurutmu pom bensin apa yang sangat kita kenal dan melekat kuat dipikiran kita? PERTAMINA. Thats right, itulah mengapa saya sangat berterima kasih atas komitmen dan integritas nya karena telah sangat baik dalam memfasilitasi bahan bakar minyak (BBM) hingga ke pelosok Nusantara.

Pertamina dan Indonesia adalah satu kesatuan yg keberadaanya saling melengkapi satu sama lain. Hari ini, saya tidak pernah bisa membayangkan jika Pertamina begitu saja hilang dari perannya sebagai penyuplai bahan bakar minyak (BBM) terbesar di Indonesia, guna memfasilitasi kebutuhan dasar Masyarakat Indonesia dalam bertransportasi. Disamping, kepemilikan alat transportasi individu yang sudah sangat mudah di dapatkan. Seperti halnya Motor, Mobil dan kendaraan lainnya.

Antrian panjang, di pom Pertamina mudah diurai. Di Jakarta khususnya atau bahkan di kota-kota besar lainnya, Pertamina bahkan melengkapi Pom-Nya dengan tempat beristirahat, toilet, Musholla, hingga minimarket.

Hemat saya, ini inovasi yang unik, yang dimiliki/diawali oleh Pom Pertamina.

Disaat hujan lebat, masyarakat yang sedang mengisi BBM, nampaknya sudah tidak perlu lagy bersusah payah mencari tempat ibadah, makanan dan minuman ringan, atau bahkan soal buang hajat (toilet). Saya melihat, walaupun pom bensin Pertamina digunakan untuk mengisi bahan bakar, tetapi tak satupun karyawan yang melarang masyarakat yang terkadang datang hanya untuk menggunakan fasilitas yang ada seperti untuk berteduh, beribadah, buang air, atau mungkin hal-hal normal lain selain merokok - karena akan membahayakan dan demi keamanan bersama-.

Saya teringat, dulu disaat melakukan bakti sosial bersama teman-teman mahasiswa lain di daerah Bogor Utara. Kondisi yg memprihatinkan, mata air yang tak sedikitpun mengalir, sumur-sumur kering karena musim kemarau. Di sana warga merekomendasikan saya bersama teman-teman untuk mandi dan buang air di toilet Pom Pertamina yang jaraknya di pinggir jalan tidak jauh dari perkampungan. Hal yang salah sebenarnya, tapi yasudahlah, pom Pertamina pun malah mempersilahkan dengan sangat welcome untuk menggunakan fasilitas pom Pertamina yang telah disediakan untuk umum.

"Memangnya boleh ya Bu, mandi di toilet Pertamina?" Tanya saya heran pada si ibu, salah satu warga kampung.

Dengan cepat si ibu menjawab dengan bahasa Sunda "Muhun jang, teu nanaon, da warga Oge Osok ibak di dinya, Pani teu Aya cai " ( Iyah Dek, Tidak apa-apa, lagipupa warga juga sering mandi di sana kalau sedang tidak ada air).

Menurut saya, Itu adalah hal sederhana, yang terkadang banyak perusahaan justru melupakan hal itu dan memilih menjadi perusahaan yang kaku, ekslusive (tertutup), tidak ramah terhadap sekitar dan tidak peduli dengan kondisi masyarakat.

Berdasarkan pengalaman kecil yang begitu besar dampak dan manfaatnya, saya semakin yakin bahwa Pertamina adalah bagian dari 250 juta masyarakat Indonesia. Saya selalu mendukung, program-program unggulan yang dilakukan oleh Pertamina.

Belum lama, di media sosial, berita, dan di televisi, ramai dengan adanya program #BBMsatuharga dari Pertamina. Artinya, harga BBM di Pom Pertamina, disamaratakan dari Sabang sampai Merauke.

Saya kaget, Rupanya, Pertamina berani, menyamaratakan harga BBM hingga ke pelosok Nusantara. Padahal setahu saya, jauh di ujung sana, di luar pulau Jawa, harga BBM awalnya hampir mencapai 70-80 ribu/Liter.

Tetapi tidak untuk saat ini #BBMSatuHarga, Dengan segala pertimbangan dan resiko. Biaya yang dikeluarkan tentu jauh lebih besar daripada keuntungan yang didapat oleh Pertamina. Akses yang memang lebih sulit untuk menyuplai BBM sampai kesana, membuktikan kontribusi yang besar telah dilakukan oleh Pertamina untuk masyarakat Indonesia.

Pertamina adalah bagian dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Karena itu Pertamina faham betul soal-soal ekonomi kerakyatan, dan kondisi serta apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat dan alam Indonesia. Maka wajar Pertamina sering sekali membuat program-prorgam, demi menjaga kelestarian, dan kesejahteraan Indonesia.

Selaku warga, saya hanya ingin mengingatkan, niat baik mesti diapresiasi sekecil apapun langkahnya. Pertamina telah memberikan BBM bersubsidi untuk warga yang tidak mampu atau menengah kebawah. Untuk itu sederhana, tinggal bagaimana memahami peran dan kondisi perekonomian kita masing masing. Sehingga apa yang telah dilakukan oleh Pertamina, sesuai sasaran, dan berjalan dengan yang diharapkan.

Saya terkadang iba, saat melihat ada mobil/motor plat berwarna merah justru mengisi BBM bersubsidi, yang sebenarnya diperuntukkan bukan orang seperti mereka. Berangkat dari kesadaran, mari bergandengan tangan, khusunya untuk mengawal setiap program-prorgam pertamina agar berjalan dengan baik demi Indonesia yang lebih baik dan berenergi.

Terakhir, saya berani mengatakan, Karena adanya Pertamina saya tidak pernah khawatir kehabisan bahan bakar saat diperjalanan, kesulitan mencari tempat ibadah, tempat buang air, atau mencari tempat untuk sekedar menikmati beristirahat sambil menikmati kopi dan makanan ringan. So, terima kasih juga kepada seluruh karyawan Pertamina yang dengan ramah menyapa, memberikan senyuman dan kehangatan dalam nuansa kekeluargaan. Tetaplah menjadi seperti yang kukenal. Be best than others Pertamina. (Ardi)



Buih Regenerasi pahlawan masa depan
Kami ada untuk kalian Pahlawanku, kami selalu yakin bahwa kematian bukanlah akhir dari perjuangan mu. Walau jasad lebur didalam kubur, tapi nama dan konstribusi mu tetap bisa kami rasakan hingga saat ini. Kalaupun perlu, jika kau ingin tak hanya 10 november kami memperingati jasamu untuk sekedar menghormati dan berterima kasih atas jasa yang pernah kau berikan setiap hari pun kamu sanggup memperingati mu untuk selalu ingat terhadap perjuangan yang tak mudah itu.  
Tapi, kami yakin kau bukanlah orang yang mengelu-elukan pujian, sehingga setiap hari kami harus mengenang-mu, sayang, kau tak seperti sosok pahlawan di masa dimana kamu hidup. Pahlawan di masa kami adalah pahlawan yang banyak mencari nama dan pujian di atas penderitaan rakyat.
Pahlawan dimasa kami adalah pahlawan yang haus akan pujian dan sanjungan, pahlawan yang lebih mengenali karakter bangsa lain dari pada karakter bangsanya sendiri. Pahlawan yang tak faham kemauan dan keinginan rakyatnya. Pahlawan yang lebih memilih menjadi lawan daripada menjadi sahabat rakyatnya.
lilin-lilin ini menjadi bukti bahwa kegelapan ada dimana-mana, dan tak  satupun pahlawan dimasa kami, yang berani melawan kegelapan. Mereka hanya berani muncul di siang petang di tengah hiruk pikuk kehidupan mulai sibuk. Kami faham, berjuang di tengah kegelapan memang memerlukan keikhlasan dan resiko tanpa pujian, tanpa ucap terima kasih. Sebab disiang hari kondisi justru akan sangat menguntungkan sehingga banyak pahlawan di zaman ku yang berjuang di tengah keramaian.
Kami ingin mengatakan bahwa lilin lilin ini mewakili setiap perjuangan pahlawan kami dahulu. Perjuangan yang tak mengenal untung rugi kantong dan nama pribadi, melainkan perjuangan untuk demi membela harga diri untuk sebuah kemerdekaan. Membeli kemerdekaan dengan harga yang sangat mahal sebab bukan hanya bicara materi, tapi hidup dan mati.
Bagi kami Merayakanmu hanya untuk beberapa  jam tak sebanding dengan perjuangan mu yang begitu panjang. kami tak menghiraukan kicauan orang sinis yang tak pernah bisa memahami maksud dan tujuan kami malam ini.
     Kami tak peduli, yang terpenting di kubur sana pahlawanku menyaksikan bahwa ada segelintir orang yang kelak menjadi buih regenrasi pahlawan di masadepan yang masih berusaha menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawan dengan caranya nya masing-masing.


Terima kasih pahlawanku


 
27 kali persidangan Jessica Kumala Wongso berjalan. Sudah kurang lebih 6 bulan perjalanan proses peradilan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin oleh terdakwa Jessica. Sampai detik ini setelah sebelumnya jaksa menuntut jessica 20 tahun penjara, namuan proses peradilan demi peradilan masih saja berlangsung dan belum menemukan titik akhirnya.

Tak puas dengan putusan tersebut kuasa hukum jessica pun melayangkan pembelaan dan gugatan baliknya. 

Saya melihat ini adalah kasus yang kurang lebih ketiga kalinya dengan durasi waktu persidangan terpanjang setelah sebelumnya di peringkat dengan durasi proses persidangan terlama di raih oleh Kasus Antasari Azhar (Ketua KPK), dan kasus Pembunuhan Angeline.

Media televisi yang selama ini berperan penting memberitakan dan membentuk persepsi publik menjadi sebuah opini public nampaknya mendapatkan keuntungan yang lumayan besar dan cukup kiranya digunakan untuk pesta-pesta. Kasus seperti jessica sepertinya dijadikan sebagai event atau proyek besar untuk perusahaan media. Bayangkan salah satu televise Nasional yang memberitakan proses peradilan jessica dengan sangat intens.

Bak sebuah sinetron dengan pemeran utama Jessica Kumala Wongso atau Film bergenre Detektif yang mencari suatu kebenaran sejati. 

Menurut saya, bukan hanya keburukan yang kita dapatkan dari pemberitaan tentang jessica di media massa. Walaupun terkadang hal demikian melupakan  kita pada kasus atau informasi yang seharusnya kita dapatkan karena lebih kita butuhkan. 

Tetapi seperti yang dikatakan oleh McComb dan Donald L. Shaw, dengan teorinya Agenda Setting, yang berasumsi bahwa “jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting”. 

Sebenarnya kasus jessica boleh dikatakan bukanlah hal yang penting untuk banyak orang, tetapi dengan power full nya media , maka kata tidak penting, mudah sekali dibuat agar menjadi penting bahkan sangat penting.

Bayangkan, dalam menguak kasus jessica banyak melibatkan tokoh, ahli, pakar, penngamat. Mulai dari doctor, professor, Dosen dari berbagai jurusan bahkan Ahli dari Luar negeri pun didatangkan hanya untuk membuktikan sesuatu yang sebenernya kecil. Yaitu siapa yang menuangkan Racun sianida ke dalam kopi Vietnam ?, so itu menurut saya sama halnya seperti siapa yang mencuri uang orang tua di dalam lemari, atau siapa yang mengambil celana dalam teman di jemuran, dan siapa yang mencoret muka teman yang sedang tidur ?

Pemberitaan buruk belum tentu berdampak buruk bagi yang diberitakannya, begitupun sebaliknya. Dari peristiwa demikian, intensitas media yang terus menerus istiqomah memberitakan soal Jessica, justru membuat nama jessica semakin tenar mengalahkan ketenaran artis-artis kelas atas seperti syahrul gunawan, cut tari dan sebagainya.

Bahkan ada orang yang memanfaatkan kasus jessica sebagai sebuah peluang bisnis dan usaha. Ada kafe kopi sianida, ada kopi jessica, dan masih banyak yang lainnya.
Saya yakin, kalau saja jessica bebas maka akan banyak para sponsor yang akan meng endorse barangnya di akun instagram jessica. Hehe…

Lagi-lagi saya melihat bahwa proses persidangan  tidak hanya sebagai proses asli persidangan pada umumnya. Dengan banyaknya stand camera di kanan dan kiri tentu hal demikian menjadi ajang tarik menarik opini, empati bahkan simpati masyrakat. 

Lihat bagaimana di awal-awal persidangan sangat yakin betul kalau jessica pelakunya dikarenakan body language atau gesture, mimic muka jessica yang tidak sama sekali menangis dan malah ada sedikit tawa. Dan sampai di pertengahan bahkan di ujung justru malah jessica menangis,mengeluakan air mata, dan mengklarifikasi keluhannya terkait tekanan dan intimidasi dari banyak orang. 

Posisi jessica seperti sedang menjadi selebritis, yang memenuhi permintaan kliennya. So saya bilang bahwa persidangan ini tak ubahnya seperti lokasi Syuting dimana dramaturgi dimainkan.
Justru dengan hal demikian malah menambah banyak spekulasi-spekulasi yang berbeda-beda. Dan kecenderungan orang menyalahkan jessica, mungkin saja ada sebagian yang beralih malah mendukung jessica. 

Popularitas Jessica dibuktikan kembali setelahnya ia di isu kan menempati sel tahanan mewah. Hehe ..nampaknya semakin meyakinkan bahwa jessica sudah menyabet gelar artisnya.
Anehnya, jessica seperti di kejar-kejar pencari keadilan yang menuntut jessica di hukum dengan seadil-adilnya. Makanya wajar jika sampai dalam sel pun gerak-gerik jessica masih di awasi khususnya oleh banyak mata kamera media yang tersebar dimana-mana. 

Mengetahui bahwa Kasus jessica termasuk film bergenre Persidangan yang rattingnya tinggi dan bisa di jual di pasaran. Sehingga media tak sedikit pun melewatkan berita tentang jessica walau satu detik.
So akan sepeti apakah kelanjutan kisahnya jessica sebagai artis dadakan ? kita akan tunggu berita selanjutnya.

 Menurut saya, jika jessica menadapat tempat sel tahanan yang mewah adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika media dengan kekuatan bisnis nya memperoleh kekayaan dari hasil pemberitaan kasus jessica kumala wongso tetapi tidak sedikit pun memberikan royalti kepada saudara jessica sebagai gaji atau honor yang sudah seharusnya ia dapatkan dari hasil syutingnya selama masa persidangan.
 

 
Beberapa bulan lagi kita akan menyambut pesta demokrasi pemilukada 2017 secara serentak di Indonesia. DKI Jakarta seakan menjadi sentralisasi atau barometer keberhasilan pemilukada  nasional dalam mengkonfigurasi kontur kepemimpinan nasional. Pasalnya, sebagian besar masyarakat Ibu Kota DKI Jakarta mayoritas adalah kaum urban atau pendatang dari berbagai daerah seperti jawa, sumatera, Sulawesi dan sebagainya. Bahkan tak jarang masyarakat yang berdomisili di daerah pun turut andil dalam menyuarakan dan memberi dukungan kepada calon yang menurutnya cocok untuk memimpin Ibu Kota DKI Jakarta 2017 mendatang. hal demikian tidak lain dikarenakan intensitas media yang begitu banyak memberitakan para calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.
Terlepas siapa yang akan terpilih menjadi pemimpin ibu kota di masa mendatang, hal yang paling mendasar perlu diperhatikan adalah sejauh mana tekad besar yang dimiliki oleh para calon gubernur untuk membenahi permasalahan-permasalahan ibu kota. Meminjam perkataan JJ.Rizal yang mengatakan bahwa permasalahan di ibu kota DKI Jakarta, setidaknya ada 3 hal yang harus diselesaikan, Pertama, Banjir Orang, kedua, banjir Air, dan ketiga banjir kendaraan.

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan JJ.Rizal. bahwa ketiga hal tersebut menurut saya adalah suatu permasalahan yang nantinya akan saling berkaitan dan kemudian akan berdampak pada banyaknya permasalahan-permasalahan social lainnya. Banjir orang misalnya, disebabkan karena urbanisasi yang tidak terkontrol, menyebabkan terjadi kepadatan penduduk, berkurangnya RTH (Ruang Terbuka Hijau), kemudian terjadi bencana banjir dikarenakan berkurangnya resapan dan penampungan air, tata letak kota yang berantakan, kemacetan dimana-mana dan masih banyak segudang permasalahan lainnya.

Bicara permasalahan di ibu kota layaknya seperti mengeruk air laut dengan gayung tidak akan ada habisnya. Telebih kita tahu bahwa ibu kota DKI Jakarta bukan hanya dijadikan sebagai pusat Pemerintahan, tapi juga menjadi pusat perekonomian, dan terutama pusat para kaum kapital menanamkan investasinya untuk merauk sejumlah keuntungan.

Di tengah pertumbuhan populasi urban yang jauh lebih cepat dibanding dengan pertumbuhan pembangaunan infrastruktur, seperti sudah saatnya kita bicara tentang peta konsep sebagai sebuah solusi yang tepat untuk menjawab semua permasalahan-permasalahan yang sudah sejak lama mengakar di Ibu Kota.

Belum lama, peta konsep Greater Jakarta sempat ramai dipemberitaan media. Setelah Gagasan konsep ini dibahas dalam pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Rektor ITB, Akhmaloka, Selasa 11 Januari 2010. Hal demikian juga sempat mengundang sejumlah ahli tata kota, pengamat untuk membahas gagasan tersebut. 

Dalam perjalannnya konsep Greater Jakarta juga tak jarang banyak menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat, khususnya para pengamat, politisi dan pengambil kebijakan. Greater  Jakarta sebenarnya bukanlah merupakan hal yang baru. Sebagaimana yang dikatakan oleh JJ.Rizal,  pada acara diskusi Opini.id dengan tema “The Greater Jakarta dan Perkembangan Kawasan Pinggiran”. JJ Rijal menjelaskan bahwa  greater Jakarta adalah peta konsep yang telah berlangsung secara turun temurun. Konsep ini di gagas pertama kali oleh walikota Jakarta, Bapak sudiro di zaman pemerintahan presiden soekarno. Walau kerapkali soekarno dan sudiro sering bertengkar mengenai ide dan gagasan. Namun, untuk hal the Greater Jakarta berbeda, sokarno justru menyepakati konsep tersebut. Dan Greater Jakara adalah mimpi Sudiro dan Soekarno untuk Jakarta seribu tahun ke depan.

Bukan tanpa alasan soekarno menyepakati Greater Jakarta, selain, Jakarta mendatang akan menjadi episentrum urbanisasi,  sehingga diperlukan perluasan wilayah.  Sedang, wajah ibu kota dalam konsep atau gambaran  soekarno sebenarnya bukan hanya Jakarta, melainkan kota-kota lainnya juga nantinya dapat merepresentasikan wajah ibu kota. Wajar jika di zaman bung karno dan setelahnya viraldan berkembang isu-isu bahwa ibu kota akan dipindahkan seperti ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan sebagainya.

Secara definitif, seperti yang saya kutip dari Viva.co.id, The greater Jakarta secara sederhana dapat diartikan sebagai pengembangan  ibu kota yang terkoneksi dengan kota-kota di sekitarnya. Artinya,  Jakarta harus menyatu dengan kota-kota lain seperti Puwakarta, Cianjur, Sukabumi dan beberapa kota lain di sekitarnya. Untuk itu harus dibangun fasilitas seperti jalan raya, dan jalur tranportasi yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota tersebut. 

Singkatnya bahwa substansi dari Greater Jakarta hampir mirip dengan program pengembangan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur (Jabodetabekpunjur). Jadi, Greater Jakarta bukanlah sebagai konsep pencaplokan wilayah oleh Jakarta, melainkan sebuah upaya koordinasi penataan wilayah. So, dalam kesempatan Kopdar Opini.id, JJ Rizal menjelaskan “Jumlah penduduk Jakarta pada malam hari itu sekitar 9,6 juta jiwa, pada siang hari  meningkat hingga 15 juta”. Dengan demikian saya sangat setuju jika beban Jakarta dibagi atau ditanggung bersama dengan wilayah penyangga lainnya.

Dimas Oky Nugroho, yang juga pengamat politik dan faounder Gerakan Ampuh turut menemani perbincangan di Kopdar Opini.id, saya pribadi tertarik dengan penjelasannya ketika membandingkan kehidupan Jakarta dengan kota lainnya di berbagai Negara, seperti pemaparannya mengenai kota Canberra dan Washington DC yang menjadi pusat atau kawasan politik, sehingga tak heran jika berkunjung kesana kita akan melihat wajah-wajah yang secara sosial orang-orangnya cenderung serius, berpkaian rapih, mengenakan jas. Dengan kawasan yang seperti ini, berjalannya politik, sosial eknonomi akan sangat efektif. Karena secara teritori kawasan politik dipisahkan dengan kawasan ekonomi, sosial sehingga sedikit kemungkinan akan terpangurh intervensi.

Sekali lagi, Jakarta tidak bisa terus menerus seperti ini, kemacetan lalu lintas, banjir, kepadatan penduduk nampaknya tidak bisa diselesaikan hanya oleh Jakarta. Malaysia sudah sejak 2010 melakukan Greater/perluasan wilayah dan penataan kota yang termasuk program transformasi ekonomi Malaysia. Dan terbukti programnya berjalan dengan baik.

Untuk membangun Jakarta yang Manusiawi dibutuhkan kebijaksanaan pemerintah dalam mengambil keputusan. Pemerintah harus dapat mengakomodir si miskin dan si kaya yang hidup di ibu kota. Penggusuran yang terjadi hari ini saya kira bukanlah solusi yang solutif, melainkan solusi yang justru memiliki mudhorot yang besar daripada manfaatnya. Membangun pulau atau program reklamasi, buat saya juga masih tidak masuk akal di terapkan di Negara kepulauan. Dengan sederhana saya mengatakannya “negeri kepulauan kok bikin pulau”.

Acara Kopdar Opini.id  bersama JJ.Rizal (Sejarawan dan Penulis), Dimas Oky Nugroho (Gerakan Ampuh), dan Fajar Arif Budiman (Gerakan Ampuh) di Gedung Wisma77 lantai 8 Slipi, Jakarta Barat, menambah wawasan dan khazanah keilmuan tentang solusi yang tepat untuk setiap Masalah Ibu Kota. dan saya sepakat dengan para pembicara bahwa hanya ada dua solusi untuk Ibu Kota Jakarta yaitu Terapkan Greater Jakarta atau Pindahkan Ibu Kota ?







Previous PostPostingan Lama Beranda